Cita-cita

“Kalau sudah besar, mau jadi apa?”

 

hal tersebut adalah topik menulis yang paling sering dipakai guru-guru dalam pelajaran Bahasa sepanjang gue SD. mungkin juga dari TK? ya, pokoknya pas gue masih kecil lah.

 

Jawaban gue selalu sama: gue mau jadi dokter hewan atau jadi pengarang.

 

Kenapa dokter hewan? Karena gue suka kucing. dan sewaktu kecil gue sering ngeliat kucing sekarat sampai mati. gue berharap bisa melakukan sesuatu untuk mereka. jadi dulu kalau ada pelajaran mengarang dengan tema cita-cita gue suka banget nulis “Saya ingin jadi dokter hewan karena saya tidak mau melihat kucing mati lagi”.

 

di bawah obsesi bijak nan baik hati (tapi sangat naif) itu, biasanya gue menambahkan “Kalau tidak bisa, saya mau jadi pengarang buku. karena saya suka menulis”.

 

seiring berjalannya waktu gue pun tumbuh besar dan akhirnya gue mengenal pelajaran biologi. SMA kelas 2 adalah waktu dimana gue menyerah untuk menjadi dokter hewan. Ada beberapa hal yang gue tau pasti tidak bisa gue paksakan untuk gue sukai apalagi jalani, dan menghapal dan memahami organ-organ tubuh makhluk hidup adalah salah satunya.

 

gue masih punya sedikit kobaran keinginan masa kecil sebagai pengarang buku dan itu belum padam… pun sampai sekarang. Dari SMP gue mencoba menjadi serius untuk menulis buku. gue pernah nulis cerita, terus pas udah sekian halaman gue kasih beberapa temen sekelas gue buat di baca.  mereka nunggu lanjutan cerita gue tiap minggu dan gue happy banget. lalu suatu hari, buku Harry Potter terbaru akhirnya terbit. gue lupa yang jilid ke berapa, tapi itu adalah hal terbesar di dunia gue pada masa itu. semuanya berburu buku itu, dan adu cepat baca buku itu, atau adu cepat ambil antrian untuk meminjam buku itu ke teman yang lain. itu hal yang menyenangkan sebenarnya, tapi bersamaan dengan itu tulisan gue dan lanjutan ceritanya pun terkubur euphoria Harry Potter. Don’t get me wrong, gue ngga menyalahkan Harry Potter sama sekali untuk hal apapun. gue cuma tau bahwa saat itu ambisi gue untuk menulis memang belum besar.

gue pun pernah beberapa kali menulis cerpen untuk dikirimkan ke majalah. semuanya ditolak. gue juga berapa kali ikutan lomba menulis. semuanya ngga menang. Ngga ada satu kejadian pun yang bikin gue amat sangat sedih atau kecewa. in fact, i was quite excited of the rejection and the failure. i don’t know why.

kalau dipikir-pikir, keinginan gue untuk menulis memang ngga pernah menjadi ambisi besar buat gue. gue tau berapa banyak cerita yang coba gue tulis dan ngga ada satupun yang berhasil jadi novel. gue mentok cuma bisa jadi pengarang cerpen atau tulisan-tulisan simpel…. atau ya nulis diary. sampe sekarang pun tulisan terpanjang gue ya kumpulan tulisan di blog gue. hahahaaa…

 

I’m not persistent nor challenging myself about writing. hal itu pernah membuat gue berpikir, “dengan sikap kayak gini, apa yang mau lo expect? lo mau jadi penulis yang kayak gimana sih?”

Dalam hal menulis, gue ngga merasa gue melakukannya dengan benar, gue pun ngga punya dorongan untuk mendispilinkan diri dan membuatnya jadi benar. tapi ada satu hal yang pasti: gue menikmati aktivitas menulis. dan gue selalu punya harapan; meskipun kecil dan kadang keselip entah dimana; agar bisa menemukan jalan untuk bertahan menulis.

 

gue ngerasa gue ngga punya gaya penulisan yang khas. gue pun ngga punya cerita yang fantastis. technically gue ngga punya cukup bakat ataupun kemauan untuk menjadi penulis buku. gue pun ngga tau apa yang mau gue jual dari tulisan gue.

 

tapi akhir-akhir ini gue ngerasa cita-cita gue untuk jadi penulis buku semakin kuat. gue tau perasaan itu hadir tidak dengan tiba-tiba, tapi rasanya juga “tau-tau” menguat. entah kenapa makin lama makin jelas, either itu cerita apa yang mau gue bangun, format buku seperti apa yang mau gue bikin, atau untuk kepentingan apa buku yang pengen gue ciptakan itu.

 

Gue adalah orang yang minim bakat. gue ngga malu mengakuinya somehow. ngga bangga juga sih, malah sempat ada masanya gue mikir “ini gue bisa hidup modalnya apa yah?” XDDDD

Oke balik lagi, sekarang gue adalah orang yang bisa menerima kalo gue ngga punya bakat. karena saat ini gue menemukan sesuatu yang menurut gue lebih valuable dari bakat yaitu pemahaman tentang apa yang mau gue lakukan. pemahaman tentang passion yang tidak gue cari secara agresif, tapi terbentuk seiring dengan apa yang udah gue jalani di hidup gue. pemahaman tentang cita-cita yang tidak selalu gue usahakan untuk tercapai. pemahaman tentang keinginan untuk berkarya, setelah bertahun-tahun menjalani hidup tanpa punya visi yang jelas.

 

jadi, sekarang mau jadi apa?

“Sekarang saya mau menjadi penulis buku anak-anak”.

 

 

 

Bismillah…

Advertisements

Soliloquy – Life and Roller Coaster

I’m scared to death of roller coaster.

 

Pernah ada masanya gue sangat excited mau naik roller coaster. Gue ngga pernah ke Dufan sampe SMA (apa kuliah…. gitu) dan pertama kali gue ke Dufan itu bareng temen-temen SMP gue. Saat itu gue sangat menantikan main halilintar (Roller coasternya dufan… in case lo ngga tau…….. just in case). TAPI…… gue ngga kesampean main halilintar… karena gue nangis pas main kora-kora dufan dan gue memutuskan abis itu bahwa gue ngga suka main wahana-wahana ekstrim. I’m scared to death of them all.

Gue berusaha ngga menutup diri sih sama wahana ekstrim. Pernah pas gue kuliah semester awal dan diajak temen-temen MB ke Dufan. bertemulah lagi gue dengan kora-kora. Sama aja, gue takut. halilintar jelas diluar opsi setelahnya.

Lalu setelah gue nikah gue pun berkesempatan ke Disneyland Hong Kong. Disinilah akhirnya gue naik roller coaster pertama gue. dan lagi-lagi, gue tidak menikmatinya. Perasaan naik roller coaster itu disturbing dan uncomfortable in many many ways.

 

Kadang gue sedih karena sampe sekarang gue ngga bisa menikmati roller coaster. Karena kadang, seperti yang para quotes tentang hidup itu katakan, life indeed is so similar with riding roller coaster. Sometimes i feel like powerless because it’s indeed our choice to scream scarily or enjoy the ride. Gue sedih karena waktu hidup sedang berputar-putar dan terjun bebas, gue merasakan ketidaknyamanan yang tidak gue nikmati kayak terakhir gue naik roller coaster.

Yang gue tau, kalo hidup lagi bikin jungkir balik, gue bakal stuck didalamnya entah untuk jangka waktu berapa lama. Jadi yang paling biasa gue lakukan adalah membiasakan diri sama ketidaknyamanan. Kurangin ekspektasi, ngga mikirin jauh ke depan, lakuin apa yang gue pikir bisa gue lakuin at the moment. Ambil dan kerjain apa yang ada di depan mata dulu. Kalo masalah main keroyokan, ya pasrah aja. Take a deep breath dan urusin sebisanya dengan cara gue.

Yang gue tau, kalo perut gue udah mules-mules dan dada udah berat  ngga enak karena harus menghadapi satu hari being alive, gue atur jam tidur gue lebih rapi. Bukan cuma untuk menjaga kesehatan fisik, tapi juga mental. Tidur adalah meditasi gue. Semua hal yang gue mau bisa gue dapetin di dalam tidur. dan setelah gue bangun, ngga peduli seberapa strugglingnya gue sama hidup, gue bisa bertahan dengan berpikir nanti di akhir hari akan dateng masanya gue bisa tidur. Makanya gue paling ngga bisa punya beban kerja yang ngambil jam tidur gue, kecuali kalo gue punya passion dikerjaan itu. karena kalo gue passionate ngerjainnya then kerjaan itu lebih baik dan lebih menyenangkan dari tidur. (oke agak oot).

 

Hidup itu kadang kayak roller coaster, dan gue takut abis-abisan naik roller coaster. Gue harap gue bisa milih difficulty level buat hidup, tapi Allah Maha Tahu mana yang terbaik buat gue. Kadang gue suka mikir, menyenangkan sih kalo aja kita bisa meraba-raba kenapa dalam hidup suka ada masa dimana kita berasa diputer-dibanting-diterjunin kayak pas naik roller coaster. Tapi kadang rasanya lebih nyenengin untuk tau setelah masa-masa jungkir balik itu berakhir dan akhirnya kita dapet sendiri reward itu. Sepengalaman gue, setiap reward yang gue dapetin di akhir perjalanan naik roller coaster hidup selalu bikin gue mikir “it’s a worthy ride”.

 

Setiap gue mikir bahwa hidup itu kayak roller coaster dan mengingat betapa menakutkannya roller coaster itu buat gue, gue terus meyakinkan diri bahwa hidup itu bukan roller coaster. karena ngga kayak roller coaster, it’s not a pointless nor a monotonous ride. Life won’t give you a ride only to make you feel “the sensation”.  Life won’t make the same ride twice. In the end life; with all it’s ups and downs; always bring us to something worth to live for.

Si Koala Kecil 05 – Koala Kecil dan Papa Koala

Papa sayang Koala Kecil dan Koala Kecil juga sayang Papa.

 

Papa Koala sibuk bekerja setiap hari. Dia tidak selalu mengikuti Koala Kecil kemana saja. Tapi Papa selalu bilang, “Koala Kecil lucu sekali!” sepanjang jalan menuju kerja.

Setiap Papa kembali, Papa sebenarnya sangat lelah untuk meladeni Koala Kecil yang ingin bermanja. Tapi Papa selalu menguatkan diri menggendong dan bercanda demi senyum Koala Kecil yang ia puja.

 

Suatu hari Papa libur bekerja. Papa bersantai sepanjang pagi.

Saat siang Papa siap bermain dengan Koala Kecil.

“Koala Kecil.. main sama Papa yuk!” Seru Papa bersemangat.

Koala Kecil menengok Papa, lalu lanjut bermain lagi.

“Papa kerja saja, Koala Kecil mainnya sama Mama juga tidak apa-apa” jawab Koala Kecil sambil asyik lanjut bermain bersama Mama.
Papa Koala jadi sedih. Tapi ia tidak berkecil hati.
Segera ia ambil boneka tangan kesukaan Koala Kecil. Lalu menghampiri Koala Kecil diam-diam dengan senyum jahil.

“Cilukba! Halo Koala Kecil! Main sama aku yuukk”, Papa mengejutkan Koala Kecil dengan boneka tangannya. Koala Kecil yang terkejut langsung tertawa merajuk.

“Halo temankuuu!!”, seru Koala Kecil. dipeluknya tangan Papa Koala yang terbalut boneka.

Akhirnya Koala Kecil pun asyik bermain dengan Papa Koala.

Papa sayang Koala Kecil dan Koala Kecil juga sayang Papa.

Si Koala Kecil 04 – Koala Kecil dan Mama Koala

Mama sayang Koala Kecil dan Koala Kecil juga sayang Mama.

 

Terkadang Mama dan Koala Kecil tidak bermain bersama. Tidak apa-apa, nanti pasti mereka bisa saling bercengkrama.

 

Terkadang Mama tahu-tahu menghilang dari pandangan. tidak apa-apa, nanti pasti Mama datang dan membuat Koala Kecil merasa nyaman.

 

Terkadang Koala Kecil rindu Mama…. Lalu Mama muncul. Tapi Mama kok sibuk sendiri kesana kemari?

Koala Kecil menangis sambil meminta pelukan Mama, “Mama tidak mau memeluk Koala Kecil lagi kah?”

Kalau sudah begitu Mama Koala buru-buru menggendong Koala Kecil. Tangis Koala Kecil pun berhenti, berganti senyum yang menyenangkan hati.

“Koala Kecil sayang, Mama senang menggendong Koala Kecil. Tapi Mama harus bebersih dulu supaya Koala Kecil tidak kena kuman dari luar rumah”, Mama berkata sambil sesekali mengecup Koala Kecil.

Koala Kecil menempelkan kepalanya pada bahu Mama. Koala Kecil suka bahu Mama. Bau Mama segar karena habis bersih-bersih. Koala kecil merasa nyaman dan penuh kasih.

 

Mama sayang Koala Kecil dan Koala Kecil juga sayang Mama.

Si Koala Kecil 03 – Koala Kecil dan Waktu Tidur

Koala Kecil bermain seharian. Hobinya menggigiti dahan. Lalu berguling-guling serampangan.

 

Akhirnya malam pun datang. Koala kecil diajak Mama dan Papa pulang.

“Mari pulang, anakku sayang. Hari sudah malam, saatnya matamu terpejam. Mari sejenak berhenti bergerak. Pejamkan matamu, istirahat dulu…”

 

Koala kecil menggeleng kencang, tapi matanya bertambah berat. Ia mencoba melawan, tapi rasa kantuk lebih kuat. Nyanyian mama membuatnya menguap. tepukan papa membuatnya terlelap.

“Koala kecil yang manis, selamat tidur…” Mama dan Papa berbisik. Koala kecil mendengkur, sesekali tersenyum seolah tergelitik.

Mimpi yang indah ya anak manis… Besok kita bermain lagi.

Si Koala Kecil 02 – Koala Kecil dan Mama Papanya

Setiap Koala kecil membuka mata, mereka selalu ada. Mereka melihatnya bagaikan permata. Tak pernah jemu mengajaknya bercanda

 

“Ini Mama,” kata yang satu.

“Ini Papa,” kata yang lainnya.

Mama dan Papa, itulah mereka. Artinya apa? Koala kecil terus menerka.

 

Waktu berlalu tidak terasa. Mama dan Papa pun suka menghilang. Koala kecil sudah biasa. sekarang hilang, nanti juga datang.

 

dan datanglah mereka, Mama dan Papa. Koala Kecil sangat bahagia.

“Mama Papa sayang Koala Kecil,” sahut mereka, membuat Koala Kecil ingin memeluk keduanya.

 

Koala Kecil suka digendong Mama dan Papa. Koala Kecil suka bermain dengan Mama dan Papa. Koala Kecil suka tidur dengan Mama dan Papa.

 

Koala Kecil juga sayang Mama dan Papa.

 

 

Si Koala Kecil 01 – Koala Kecil dan Rasa Ingin Tahu

Dalam suatu hutan yang penuh dengan pohon-pohon ekaliptus rindang di sepanjang mata memandang, tinggallah seekor Koala Kecil dengan Mama Papanya.

Koala Kecil belum bisa bicara dan masih punya banyak tanya. Meskipun begitu, Papa dan Mama menyayanginya.

 

Koala Kecil senang membuka matanya lebar-lebar. Melihat kesana-kemari, mencoba mencari tahu. Mama dan Papa melihat Koala Kecil, senyum mereka pun mekar. Mereka sangat senang ketika Koala Kecil nampak bersemangat tentang sesuatu.

 

Terkadang Koala Kecil bingung dan takut dengan keadaan sekitar. Ia menangis mencari rasa aman. Tapi tangis Koala Kecil hanya sebentar. Papa dan Mama selalu siap memberinya kenyamanan.

 

Koala kecil yang ingin tahu, hobinya digendong di bahu. Mata berbinar, penuh hal baru. “Jadi anak yang pintar ya sayang!”, Mama dan Papa berseru.