Soliloquy – Life and Roller Coaster

I’m scared to death of roller coaster.

 

Pernah ada masanya gue sangat excited mau naik roller coaster. Gue ngga pernah ke Dufan sampe SMA (apa kuliah…. gitu) dan pertama kali gue ke Dufan itu bareng temen-temen SMP gue. Saat itu gue sangat menantikan main halilintar (Roller coasternya dufan… in case lo ngga tau…….. just in case). TAPI…… gue ngga kesampean main halilintar… karena gue nangis pas main kora-kora dufan dan gue memutuskan abis itu bahwa gue ngga suka main wahana-wahana ekstrim. I’m scared to death of them all.

Gue berusaha ngga menutup diri sih sama wahana ekstrim. Pernah pas gue kuliah semester awal dan diajak temen-temen MB ke Dufan. bertemulah lagi gue dengan kora-kora. Sama aja, gue takut. halilintar jelas diluar opsi setelahnya.

Lalu setelah gue nikah gue pun berkesempatan ke Disneyland Hong Kong. Disinilah akhirnya gue naik roller coaster pertama gue. dan lagi-lagi, gue tidak menikmatinya. Perasaan naik roller coaster itu disturbing dan uncomfortable in many many ways.

 

Kadang gue sedih karena sampe sekarang gue ngga bisa menikmati roller coaster. Karena kadang, seperti yang para quotes tentang hidup itu katakan, life indeed is so similar with riding roller coaster. Sometimes i feel like powerless because it’s indeed our choice to scream scarily or enjoy the ride. Gue sedih karena waktu hidup sedang berputar-putar dan terjun bebas, gue merasakan ketidaknyamanan yang tidak gue nikmati kayak terakhir gue naik roller coaster.

Yang gue tau, kalo hidup lagi bikin jungkir balik, gue bakal stuck didalamnya entah untuk jangka waktu berapa lama. Jadi yang paling biasa gue lakukan adalah membiasakan diri sama ketidaknyamanan. Kurangin ekspektasi, ngga mikirin jauh ke depan, lakuin apa yang gue pikir bisa gue lakuin at the moment. Ambil dan kerjain apa yang ada di depan mata dulu. Kalo masalah main keroyokan, ya pasrah aja. Take a deep breath dan urusin sebisanya dengan cara gue.

Yang gue tau, kalo perut gue udah mules-mules dan dada udah berat  ngga enak karena harus menghadapi satu hari being alive, gue atur jam tidur gue lebih rapi. Bukan cuma untuk menjaga kesehatan fisik, tapi juga mental. Tidur adalah meditasi gue. Semua hal yang gue mau bisa gue dapetin di dalam tidur. dan setelah gue bangun, ngga peduli seberapa strugglingnya gue sama hidup, gue bisa bertahan dengan berpikir nanti di akhir hari akan dateng masanya gue bisa tidur. Makanya gue paling ngga bisa punya beban kerja yang ngambil jam tidur gue, kecuali kalo gue punya passion dikerjaan itu. karena kalo gue passionate ngerjainnya then kerjaan itu lebih baik dan lebih menyenangkan dari tidur. (oke agak oot).

 

Hidup itu kadang kayak roller coaster, dan gue takut abis-abisan naik roller coaster. Gue harap gue bisa milih difficulty level buat hidup, tapi Allah Maha Tahu mana yang terbaik buat gue. Kadang gue suka mikir, menyenangkan sih kalo aja kita bisa meraba-raba kenapa dalam hidup suka ada masa dimana kita berasa diputer-dibanting-diterjunin kayak pas naik roller coaster. Tapi kadang rasanya lebih nyenengin untuk tau setelah masa-masa jungkir balik itu berakhir dan akhirnya kita dapet sendiri reward itu. Sepengalaman gue, setiap reward yang gue dapetin di akhir perjalanan naik roller coaster hidup selalu bikin gue mikir “it’s a worthy ride”.

 

Setiap gue mikir bahwa hidup itu kayak roller coaster dan mengingat betapa menakutkannya roller coaster itu buat gue, gue terus meyakinkan diri bahwa hidup itu bukan roller coaster. karena ngga kayak roller coaster, it’s not a pointless nor a monotonous ride. Life won’t give you a ride only to make you feel “the sensation”.  Life won’t make the same ride twice. In the end life; with all it’s ups and downs; always bring us to something worth to live for.

Advertisements

Si Koala Kecil 05 – Koala Kecil dan Papa Koala

Papa sayang Koala Kecil dan Koala Kecil juga sayang Papa.

 

Papa Koala sibuk bekerja setiap hari. Dia tidak selalu mengikuti Koala Kecil kemana saja. Tapi Papa selalu bilang, “Koala Kecil lucu sekali!” sepanjang jalan menuju kerja.

Setiap Papa kembali, Papa sebenarnya sangat lelah untuk meladeni Koala Kecil yang ingin bermanja. Tapi Papa selalu menguatkan diri menggendong dan bercanda demi senyum Koala Kecil yang ia puja.

 

Suatu hari Papa libur bekerja. Papa bersantai sepanjang pagi.

Saat siang Papa siap bermain dengan Koala Kecil.

“Koala Kecil.. main sama Papa yuk!” Seru Papa bersemangat.

Koala Kecil menengok Papa, lalu lanjut bermain lagi.

“Papa kerja saja, Koala Kecil mainnya sama Mama juga tidak apa-apa” jawab Koala Kecil sambil asyik lanjut bermain bersama Mama.
Papa Koala jadi sedih. Tapi ia tidak berkecil hati.
Segera ia ambil boneka tangan kesukaan Koala Kecil. Lalu menghampiri Koala Kecil diam-diam dengan senyum jahil.

“Cilukba! Halo Koala Kecil! Main sama aku yuukk”, Papa mengejutkan Koala Kecil dengan boneka tangannya. Koala Kecil yang terkejut langsung tertawa merajuk.

“Halo temankuuu!!”, seru Koala Kecil. dipeluknya tangan Papa Koala yang terbalut boneka.

Akhirnya Koala Kecil pun asyik bermain dengan Papa Koala.

Papa sayang Koala Kecil dan Koala Kecil juga sayang Papa.

Si Koala Kecil 04 – Koala Kecil dan Mama Koala

Mama sayang Koala Kecil dan Koala Kecil juga sayang Mama.

 

Terkadang Mama dan Koala Kecil tidak bermain bersama. Tidak apa-apa, nanti pasti mereka bisa saling bercengkrama.

 

Terkadang Mama tahu-tahu menghilang dari pandangan. tidak apa-apa, nanti pasti Mama datang dan membuat Koala Kecil merasa nyaman.

 

Terkadang Koala Kecil rindu Mama…. Lalu Mama muncul. Tapi Mama kok sibuk sendiri kesana kemari?

Koala Kecil menangis sambil meminta pelukan Mama, “Mama tidak mau memeluk Koala Kecil lagi kah?”

Kalau sudah begitu Mama Koala buru-buru menggendong Koala Kecil. Tangis Koala Kecil pun berhenti, berganti senyum yang menyenangkan hati.

“Koala Kecil sayang, Mama senang menggendong Koala Kecil. Tapi Mama harus bebersih dulu supaya Koala Kecil tidak kena kuman dari luar rumah”, Mama berkata sambil sesekali mengecup Koala Kecil.

Koala Kecil menempelkan kepalanya pada bahu Mama. Koala Kecil suka bahu Mama. Bau Mama segar karena habis bersih-bersih. Koala kecil merasa nyaman dan penuh kasih.

 

Mama sayang Koala Kecil dan Koala Kecil juga sayang Mama.

Si Koala Kecil 03 – Koala Kecil dan Waktu Tidur

Koala Kecil bermain seharian. Hobinya menggigiti dahan. Lalu berguling-guling serampangan.

 

Akhirnya malam pun datang. Koala kecil diajak Mama dan Papa pulang.

“Mari pulang, anakku sayang. Hari sudah malam, saatnya matamu terpejam. Mari sejenak berhenti bergerak. Pejamkan matamu, istirahat dulu…”

 

Koala kecil menggeleng kencang, tapi matanya bertambah berat. Ia mencoba melawan, tapi rasa kantuk lebih kuat. Nyanyian mama membuatnya menguap. tepukan papa membuatnya terlelap.

“Koala kecil yang manis, selamat tidur…” Mama dan Papa berbisik. Koala kecil mendengkur, sesekali tersenyum seolah tergelitik.

Mimpi yang indah ya anak manis… Besok kita bermain lagi.

Si Koala Kecil 02 – Koala Kecil dan Mama Papanya

Setiap Koala kecil membuka mata, mereka selalu ada. Mereka melihatnya bagaikan permata. Tak pernah jemu mengajaknya bercanda

 

“Ini Mama,” kata yang satu.

“Ini Papa,” kata yang lainnya.

Mama dan Papa, itulah mereka. Artinya apa? Koala kecil terus menerka.

 

Waktu berlalu tidak terasa. Mama dan Papa pun suka menghilang. Koala kecil sudah biasa. sekarang hilang, nanti juga datang.

 

dan datanglah mereka, Mama dan Papa. Koala Kecil sangat bahagia.

“Mama Papa sayang Koala Kecil,” sahut mereka, membuat Koala Kecil ingin memeluk keduanya.

 

Koala Kecil suka digendong Mama dan Papa. Koala Kecil suka bermain dengan Mama dan Papa. Koala Kecil suka tidur dengan Mama dan Papa.

 

Koala Kecil juga sayang Mama dan Papa.

 

 

Si Koala Kecil 01 – Koala Kecil dan Rasa Ingin Tahu

Dalam suatu hutan yang penuh dengan pohon-pohon ekaliptus rindang di sepanjang mata memandang, tinggallah seekor Koala Kecil dengan Mama Papanya.

Koala Kecil belum bisa bicara dan masih punya banyak tanya. Meskipun begitu, Papa dan Mama menyayanginya.

 

Koala Kecil senang membuka matanya lebar-lebar. Melihat kesana-kemari, mencoba mencari tahu. Mama dan Papa melihat Koala Kecil, senyum mereka pun mekar. Mereka sangat senang ketika Koala Kecil nampak bersemangat tentang sesuatu.

 

Terkadang Koala Kecil bingung dan takut dengan keadaan sekitar. Ia menangis mencari rasa aman. Tapi tangis Koala Kecil hanya sebentar. Papa dan Mama selalu siap memberinya kenyamanan.

 

Koala kecil yang ingin tahu, hobinya digendong di bahu. Mata berbinar, penuh hal baru. “Jadi anak yang pintar ya sayang!”, Mama dan Papa berseru.

Bonus Week 06 T&J With Della dan Cune

Pertanyaan 3: Since you guys already familiar with terms “curhat pasif”, ceritain dong curhat pasif yang kalian rasa paling seru (brarti bisa dari musik, buku atau film/tv series yah)

DISCLAIMER: gue ngga bakal bikin review tentang pilihan gue dalam bercurhat pasif. gue cuma akan menulis tentang kenapa itu menjadi curhat pasif terseru gue. Tp bisa jadi dalam gue menjelaskan terdapat spoiler di dalamnya.

Gue kan nanyain ini ke Della dan Cune yang memang udah familiar sama terms curhat pasif. Buat yang belom familiar (positif thinking banget kayak bakal ada orang lain yang baca X’D), curhat pasif itu intinya sih lo nonton/baca/dengerin sesuatu dan ngerasa fulfilled/relieved Setelahnya, ya kayak abis curhat aja gitu.

Curhat pasif gue yg paling seru ada 2. ironisnya adalah dua2nya itu pas gue baca buku, hal yg sekarang2 ini udah ngga pernah gue lakuin lagi. Bukan jarang, tapi ngga pernah. kayak ngga ada energi buat ngelakuin itu dan ngga mau gambling ngabisin free time untuk hal yang in the end gue ngga suka. Buat gue membaca itu time consuming dan kalo ngga suka gue merasa rugi. Terakhir gue baca buku detektifnya J. K. Rowling dan kesel sama perkembangan cerita personalnya jd berhenti deh. perasaan rugi karena ngga suka bagian tengah buku itu bikin gue rada2 mikir lagi kalo mau baca.

Tadinya gue mau ngejawab dengan TV series Bones atau Doctor Who karena buat gue ada moment yang sangat berkesan dan impactful yang gue rasain sewaktu gue menonton dua series ini (Sewaktu yah, bukan selalu). tp setelah gue inget2 kayaknya yg bikin gue ngerasa curhat sampe2 gue bisa literally ngelontarin kalimat “gila, gue baca ini berasa lg curhat” kayaknya pas baca 2 buku ini:

  1. What I talk about when I talk about running by Haruki Murakami.

    9780099526155

Di buku ini haruki murakami yang biasanya bikin novel fiksi akhirnya nyeritain tentang dirinya dan hobi yang menjadi aktivitas regulernya, berlari. Yang bikin gue ngerasa kayak lagi curhat adalah betapa similarnya hal yang dideskripsikan Pak Murakami sama perasaan gue pas gue lagi lari.

Pas kuliah gue ikutan marching band. of course Della dan Cune tahu apa yang bakal gue omongin ini, since kalian pun anak MB lol Meskipun secara teknis latihannya ngga tiap hari, bisa dibilang latihan marching band itu adalah keseharian gue. Pas kuliah gue ngga kebayang ada hari tanpa latihan. Dan setiap latihan selalu ada lari. Lari adalah pemanasan dasar. Hal yang paling pertama kita lakuin tepat sebelum latihan dan setelah apel. Jadi bisa dikatakan gue sangat banyak melakukan lari saat gue kuliah. Dan di semua moment berlari gue, satu hal yg pasti terjadi adalah gue bengong/melamun. Yap. Bengong. Orang mungkin ngeliat gue pas lagi lari kayaknya kecapekan banget. Well, itu bener sih. Gue kan anaknya menyenye dan sebenernya kalo abis lari pasti idung perih dan suka memble kesakitan sendiri. Tapi sebenernya pas lagi lari, semakin bawah dan fokus gue dalam ngeliat aspal, semakin dalam juga lamunan gue. Dulu banget gue pernah lari sambil ngga ngelamun atau ngga bengong gitu, ngga kuat euy! I guess daydreaming is my way of focusing X’D

Momen lari tuh bisa dijadiin momen refleksi diri, dan cara Pak Murakami merefleksikan dirinya saat lari sama dengan cara gue. Samaaaa banget sampe2 gue ngerasa ngga perlu menjelaskan tentang diri gue ke orang2. Sama banget sampe2 gue ngerasa Orang2 bisa tau gue mikirin apa pas gue lagi lari dari membaca buku itu. dalam berlari gue ngga pernah jadi yang tercepat, tapi gue bisa jadi yang paling lama bertahan untuk lari. gue tipe marathon, bukan sprinter. gue bukan anak yang pengen cepet2 sampe, tapi “nanti juga sampe kalo kita ngga berhenti”. dalam berlari, gue tipe yang gampang kecapekan tapi suka ngepush diri untuk ngelakuin yang terbaik yang gue bisa karena percaya kalo itu gue lakuin sekarang, maka gue bisa berada dimana titik terbaik diri gue itu pun bisa terlampaui nantinya. Gue suka berpikir strategis, tapi gue percaya bahwa pada dasarnya seni berlari ada pada apa yang lo coba kasih tau ke seluruh tubuh lo. Dalam berlari, bukan strategi atau kekuatan fisik yang penting,, tapi kemampuan lo berkomunikasi sama seluruh anggota tubuh dan diri lo.

 

dan gue ngerasa semua hal itu tergambarkan dengan baik di buku ini. dan gue pun lega bahwa perasaan gue terterjemahkan.

  1. Quiet by Susan Cain.

    517rtAtrHzL._SX323_BO1,204,203,200_.jpg

The thing is, reading is gambling. you yourself need to find out whether that’s a good book for you or not. not any single review could really convinced you, you need to read it yourself to decide if a book is a good book. at least that what it’s meant for me.

 

Buku Quiet ini ngga gue banget. gue pun bukan tipe orang yang terlalu tertarik mendefine diri gue apakah gue extrovert atau introvert. it’s not even a fiction. Pokoknya ini bukan genre gue sama sekali. However, gue merasakan tektokan yang sangat smooth justru pas gue lagi baca buku ini. gue ngerasa percakapan Ginny sama Tom Riddle via diary itu lewat deh, soalnya they’re technically chatting while what this book did to me is having a conversation but all the responses for me is actually there, waiting for me to read it.

Gue suka sama kegelisahan buku ini atas penjelasan logis tapi ga sreg yg slalu gue rasain dr kecil, “untuk diperhatikan kamu harus bersuara keras”. Ibu gue membesarkan gue dengan sangat obsesif. Rajin ngikutin gue lomba dan bukan supaya gue dapet banyak pengalaman. Ibu butuh pembuktian, dia berharap gue dan kakak gue mampu membantunya. Sbenernya ngga masalah sih kalo gue emang mumpuni. But I’m not a social person. I tend to act or talk wrong in front of people. Itulah yg membuat gue naturally socially awkward. Anak ngga pedean dan canggungan sama orang baru kayak gue suka disuruh manggung…. ya kalo jatohnya malu2in maap2 aja lol

Pas momen2 itu gue suka kesel sama nyokap. Kenapa beliau maksa banget yah? Tapi nyokap selalu bilang, “harus berani” “harus bisa bisa tampil di depan orang banyak”. Pas kecil gue ngga pernah ngerti kenapa. Lately gue sadar dia minta itu untuk mencari pengakuan. Buat ibu, supaya dapat pengakuan, kita dulu yg harus aktif membuktikan ke orang2 kalo kita itu sesuatu. Nothing’s wrong with that logic since everyone seems agree with it, but i just felt so unfit about it. Obsesi ibu supaya gue “didengarkan” sebenernya membuahkan hasil karena gue jadi orang yg setidaknya ngga ngerasa merana2 amat kalau harus melakukan small talk pun pas batre sosial lagi abis. Tapi tetep deep down gue mempertanyakan, apa ngga ada tempat untuk gue yang sulit dan nyaris malas menjelaskan maksud gue ke orang lain ini? Apa kita harus terobsesi pada bagaimana kita menyampaikan diri kita sejelas2nya alih2 memperhatikan orang lain sejelas2nya?

Buku ini membuat gue merasa didengarkan tanpa harus bersusah payah menjelaskan, sesuatu yang gue harapkan banget bisa gue dapatkan dalam waktu yg sangat lama… almost all my life. Dan gue merasa gue akhirnya nemu closure gue dengan buku ini…

Ya begitulah… panjang yaaa…. hahahaha….

Pertanyaan 4: kalo lo animagus, lo mau jadi hewan apa dan kenapa? 

Jadi, sepengetahuan gw animagus itu ngga punya batas ada berapa jenis hewan… instead, hewan yg jd transformasi kita itu ngerepresent diri kita. Kalo gw kepengen jadi kucing kampung tp bulunya halus dan terawat. Gw ngga mau jd kucing berdarah biru dan berbulu panjang yg mahal, suka diperjualbelikan, dan high maintenance. Gw maunya jd kucil simple… cukup satu warna bulu… atau belang di satu bagian tubuh kayak satu totolan di kaki bawah atau bentuk bulan sabit di jidat (terus jd luna lol)

 

***

 

Jadi, selesai sudah tugas menulis tanya jawab yang menyenangkan ini. It’s a fun project, ngga kayak terakhir kali gue ikutan proyek menulis (oops…). Membuat gue jadi pengen banyak nulis tentang banyak hal kalo boleh jujur. So I guess I need to say thanks to Della dan Cune for having me in this little writing project.

 

Sampai jumpa di lain kesempatan!