Underestimated

I am the kind of person that get underestimated a lot. I even underestimating myself sometimes. I always heard people talk about something like, “don’t let yourself underestimated by others” or some fellows that being underestimated might say something like “don’t underestimate me”.

I always wonder why.

I am a person who get underestimated a lot, but never have any problem with that. Sure, it’s unpleasant. but is it so unpleasant it could make me mad about it? no.
Instead, I always see it as one of my secret talent. My secret weapon to deciding which person I want to keep in my life and which one whom I have no problem living without.

 
I found out that people, when they underestimate other people, they are most likely revealing their very true self to the people they’re underestimating. I think it’s a natural instinct. Why would you projecting the best of you to someone you think below you? won’t give you any benefit of them. That’s how I see people. some might ignoring me like “meh”. Some could give so much care and being super kind. Some appreciate me for being me. Some, after all my stupidity and flaw-full behavior, they even still have faith in me more than I think I deserve (Is it still counted as underestimating? I do feel they are better than me though lol).

 

The beauty of it is, someone who see me like I’m worthless for them are always someone I know I don’t wanna befriend with. So I don’t need to be rude, I just keep being the person they expected (But secretly being adorable to others XP).

 

By being underestimated, I don’t think less of me. Maybe that’s the important thing why I never be bothered and make it my secret weapon instead. The truth is, I never seeing myself as a big valuable person that need to be cherished by everyone i meet. There will always someone that seeing you not more than them and there will always various reaction from them from being ignorant or being sympathetic to you. This give me the greater ability to keep someone that good for me.

 

Isn’t that make being underestimated a good thing?

 

Advertisements

Cita-cita

“Kalau sudah besar, mau jadi apa?”

 

hal tersebut adalah topik menulis yang paling sering dipakai guru-guru dalam pelajaran Bahasa sepanjang gue SD. mungkin juga dari TK? ya, pokoknya pas gue masih kecil lah.

 

Jawaban gue selalu sama: gue mau jadi dokter hewan atau jadi pengarang.

 

Kenapa dokter hewan? Karena gue suka kucing. dan sewaktu kecil gue sering ngeliat kucing sekarat sampai mati. gue berharap bisa melakukan sesuatu untuk mereka. jadi dulu kalau ada pelajaran mengarang dengan tema cita-cita gue suka banget nulis “Saya ingin jadi dokter hewan karena saya tidak mau melihat kucing mati lagi”.

 

di bawah obsesi bijak nan baik hati (tapi sangat naif) itu, biasanya gue menambahkan “Kalau tidak bisa, saya mau jadi pengarang buku. karena saya suka menulis”.

 

seiring berjalannya waktu gue pun tumbuh besar dan akhirnya gue mengenal pelajaran biologi. SMA kelas 2 adalah waktu dimana gue menyerah untuk menjadi dokter hewan. Ada beberapa hal yang gue tau pasti tidak bisa gue paksakan untuk gue sukai apalagi jalani, dan menghapal dan memahami organ-organ tubuh makhluk hidup adalah salah satunya.

 

gue masih punya sedikit kobaran keinginan masa kecil sebagai pengarang buku dan itu belum padam… pun sampai sekarang. Dari SMP gue mencoba menjadi serius untuk menulis buku. gue pernah nulis cerita, terus pas udah sekian halaman gue kasih beberapa temen sekelas gue buat di baca.  mereka nunggu lanjutan cerita gue tiap minggu dan gue happy banget. lalu suatu hari, buku Harry Potter terbaru akhirnya terbit. gue lupa yang jilid ke berapa, tapi itu adalah hal terbesar di dunia gue pada masa itu. semuanya berburu buku itu, dan adu cepat baca buku itu, atau adu cepat ambil antrian untuk meminjam buku itu ke teman yang lain. itu hal yang menyenangkan sebenarnya, tapi bersamaan dengan itu tulisan gue dan lanjutan ceritanya pun terkubur euphoria Harry Potter. Don’t get me wrong, gue ngga menyalahkan Harry Potter sama sekali untuk hal apapun. gue cuma tau bahwa saat itu ambisi gue untuk menulis memang belum besar.

gue pun pernah beberapa kali menulis cerpen untuk dikirimkan ke majalah. semuanya ditolak. gue juga berapa kali ikutan lomba menulis. semuanya ngga menang. Ngga ada satu kejadian pun yang bikin gue amat sangat sedih atau kecewa. in fact, i was quite excited of the rejection and the failure. i don’t know why.

kalau dipikir-pikir, keinginan gue untuk menulis memang ngga pernah menjadi ambisi besar buat gue. gue tau berapa banyak cerita yang coba gue tulis dan ngga ada satupun yang berhasil jadi novel. gue mentok cuma bisa jadi pengarang cerpen atau tulisan-tulisan simpel…. atau ya nulis diary. sampe sekarang pun tulisan terpanjang gue ya kumpulan tulisan di blog gue. hahahaaa…

 

I’m not persistent nor challenging myself about writing. hal itu pernah membuat gue berpikir, “dengan sikap kayak gini, apa yang mau lo expect? lo mau jadi penulis yang kayak gimana sih?”

Dalam hal menulis, gue ngga merasa gue melakukannya dengan benar, gue pun ngga punya dorongan untuk mendispilinkan diri dan membuatnya jadi benar. tapi ada satu hal yang pasti: gue menikmati aktivitas menulis. dan gue selalu punya harapan; meskipun kecil dan kadang keselip entah dimana; agar bisa menemukan jalan untuk bertahan menulis.

 

gue ngerasa gue ngga punya gaya penulisan yang khas. gue pun ngga punya cerita yang fantastis. technically gue ngga punya cukup bakat ataupun kemauan untuk menjadi penulis buku. gue pun ngga tau apa yang mau gue jual dari tulisan gue.

 

tapi akhir-akhir ini gue ngerasa cita-cita gue untuk jadi penulis buku semakin kuat. gue tau perasaan itu hadir tidak dengan tiba-tiba, tapi rasanya juga “tau-tau” menguat. entah kenapa makin lama makin jelas, either itu cerita apa yang mau gue bangun, format buku seperti apa yang mau gue bikin, atau untuk kepentingan apa buku yang pengen gue ciptakan itu.

 

Gue adalah orang yang minim bakat. gue ngga malu mengakuinya somehow. ngga bangga juga sih, malah sempat ada masanya gue mikir “ini gue bisa hidup modalnya apa yah?” XDDDD

Oke balik lagi, sekarang gue adalah orang yang bisa menerima kalo gue ngga punya bakat. karena saat ini gue menemukan sesuatu yang menurut gue lebih valuable dari bakat yaitu pemahaman tentang apa yang mau gue lakukan. pemahaman tentang passion yang tidak gue cari secara agresif, tapi terbentuk seiring dengan apa yang udah gue jalani di hidup gue. pemahaman tentang cita-cita yang tidak selalu gue usahakan untuk tercapai. pemahaman tentang keinginan untuk berkarya, setelah bertahun-tahun menjalani hidup tanpa punya visi yang jelas.

 

jadi, sekarang mau jadi apa?

“Sekarang saya mau menjadi penulis buku anak-anak”.

 

 

 

Bismillah…

Soliloquy – Life and Roller Coaster

I’m scared to death of roller coaster.

 

Pernah ada masanya gue sangat excited mau naik roller coaster. Gue ngga pernah ke Dufan sampe SMA (apa kuliah…. gitu) dan pertama kali gue ke Dufan itu bareng temen-temen SMP gue. Saat itu gue sangat menantikan main halilintar (Roller coasternya dufan… in case lo ngga tau…….. just in case). TAPI…… gue ngga kesampean main halilintar… karena gue nangis pas main kora-kora dufan dan gue memutuskan abis itu bahwa gue ngga suka main wahana-wahana ekstrim. I’m scared to death of them all.

Gue berusaha ngga menutup diri sih sama wahana ekstrim. Pernah pas gue kuliah semester awal dan diajak temen-temen MB ke Dufan. bertemulah lagi gue dengan kora-kora. Sama aja, gue takut. halilintar jelas diluar opsi setelahnya.

Lalu setelah gue nikah gue pun berkesempatan ke Disneyland Hong Kong. Disinilah akhirnya gue naik roller coaster pertama gue. dan lagi-lagi, gue tidak menikmatinya. Perasaan naik roller coaster itu disturbing dan uncomfortable in many many ways.

 

Kadang gue sedih karena sampe sekarang gue ngga bisa menikmati roller coaster. Karena kadang, seperti yang para quotes tentang hidup itu katakan, life indeed is so similar with riding roller coaster. Sometimes i feel like powerless because it’s indeed our choice to scream scarily or enjoy the ride. Gue sedih karena waktu hidup sedang berputar-putar dan terjun bebas, gue merasakan ketidaknyamanan yang tidak gue nikmati kayak terakhir gue naik roller coaster.

Yang gue tau, kalo hidup lagi bikin jungkir balik, gue bakal stuck didalamnya entah untuk jangka waktu berapa lama. Jadi yang paling biasa gue lakukan adalah membiasakan diri sama ketidaknyamanan. Kurangin ekspektasi, ngga mikirin jauh ke depan, lakuin apa yang gue pikir bisa gue lakuin at the moment. Ambil dan kerjain apa yang ada di depan mata dulu. Kalo masalah main keroyokan, ya pasrah aja. Take a deep breath dan urusin sebisanya dengan cara gue.

Yang gue tau, kalo perut gue udah mules-mules dan dada udah berat  ngga enak karena harus menghadapi satu hari being alive, gue atur jam tidur gue lebih rapi. Bukan cuma untuk menjaga kesehatan fisik, tapi juga mental. Tidur adalah meditasi gue. Semua hal yang gue mau bisa gue dapetin di dalam tidur. dan setelah gue bangun, ngga peduli seberapa strugglingnya gue sama hidup, gue bisa bertahan dengan berpikir nanti di akhir hari akan dateng masanya gue bisa tidur. Makanya gue paling ngga bisa punya beban kerja yang ngambil jam tidur gue, kecuali kalo gue punya passion dikerjaan itu. karena kalo gue passionate ngerjainnya then kerjaan itu lebih baik dan lebih menyenangkan dari tidur. (oke agak oot).

 

Hidup itu kadang kayak roller coaster, dan gue takut abis-abisan naik roller coaster. Gue harap gue bisa milih difficulty level buat hidup, tapi Allah Maha Tahu mana yang terbaik buat gue. Kadang gue suka mikir, menyenangkan sih kalo aja kita bisa meraba-raba kenapa dalam hidup suka ada masa dimana kita berasa diputer-dibanting-diterjunin kayak pas naik roller coaster. Tapi kadang rasanya lebih nyenengin untuk tau setelah masa-masa jungkir balik itu berakhir dan akhirnya kita dapet sendiri reward itu. Sepengalaman gue, setiap reward yang gue dapetin di akhir perjalanan naik roller coaster hidup selalu bikin gue mikir “it’s a worthy ride”.

 

Setiap gue mikir bahwa hidup itu kayak roller coaster dan mengingat betapa menakutkannya roller coaster itu buat gue, gue terus meyakinkan diri bahwa hidup itu bukan roller coaster. karena ngga kayak roller coaster, it’s not a pointless nor a monotonous ride. Life won’t give you a ride only to make you feel “the sensation”.  Life won’t make the same ride twice. In the end life; with all it’s ups and downs; always bring us to something worth to live for.

Week 04 T&J With Della dan Cune

Tema minggu terakhir ini seharusnya rada buat cooling down yaa… jadi mari kita coba cool dan ga bingung2 banget jawabnya. jadi kalo jawabannya rada irresponsible, maafin yaa… *sungkem*

 

From Della: Bekerja, untuk apa?

like i said previously, gw ini anaknya ngga visioner, jadi ujug2 ditanyain gini ya jawabannya kudu ngegali bener2 karena gw tipe yang clueless-an. somehow this kind of question appear yet i never critisized my life choice nor giving it a though to see any meaningful purpose behind it. jadi ya jawabannya pun dijalani aja yah del, guenya sambil blabbering.

 

Technically, gue tidak harus bekerja. hidup masih numpang orang tua. kebutuhan masih terpenuhi, kebutuhan anak gw pun masih banyak di back up orang tua. Dika dan gue lagi sibuk nabung yang banyak buat beli rumah, tapi pun udah nabung duit gw masih ada sisa lumayan dan akhirnya gue pake buat belanja-belinji.

kalo ditanya jawaban gue selalu sama, gue maunya kerja. ditanya untuk apa… entah.

entah apakah karena gue akhirnya bisa kerja di industri periklanan setelah gue gagal 2x menyasar jurusan tersebut pas kuliah. kayak yang pernah gue ceritain ke bos gue pas gue pertama kali ketemu dia di interview gue, “aku tumbuh dengan TV, dari situ aku tertarik sama iklan. semakin gede aku juga semakin ngerti impact iklan ke kehidupan sosial. so it might felt good if we could give such an impact socially”. tentu saja impact yang gue maksud impact idealisme dan setelah tiga tahun kerja gue pun tau bahwa mustahil kita kasih impact idealisme dengan bekerja di periklanan yang main objectivenya profit client.

 

entah apakah karena gue suka banget belanja, gue sampe malu kalo nanti belanjaan gue ke-track suami. ya ini receh sih tapi tetep aja potentially big someday.

 

entah apakah karena gue mau membuktikan bahwa gue bisa menyeimbangkan ranah karir dan rumah tangga. lately a lot of things happened. gue pun baru tau sekalinya lo udah punya anak, things changed. banyak tekanan yang bikin perempuan itu menghadapi konflik peran. sayangnya di luar dugaan gue, konflik peran itu timbul bukan dari tekanan eksternal. yap, konflik peran itu ada dari perang batin dalam diri gue sendiri. tentu faktor eksternal punya peran2 kecil. ibu dan mertua yang kesulitan membantu mengurus anak gue. suami yang ngaku ngerasa lebih tenang sewaktu anak diurus gue. atau keribetan sewaktu misalnya ada beda pendapat antara gue — si orang tua — dengan ibu gue — orang tua gue yang membantu mengasuh anak gue. but actually none of these matters if i know what i want to do. sayangnya akhir2 ini pun gue sendiri ngga yakin apa gue pengen lanjutin karir apa ngga. akhri2 ini gue ngerasa mungkin akan lebih menyenangkan kalo gue fokus main sama cantya dan ngurusin dia. somehow tiap sekarang gue mikir mana yang bikin gue lebih seneng, gue bisa clearly ngerasa seneng kalo gue dirumah ngurus cantya. di rumah sendiri, hidup bertiga doang. berempat ding sama Mba yang baik hati dan jago sama anak kecil (ini penting). cuma ya bisa sampe ke tahap itu ya ngawang2 banget sih buat saat ini. jadi ya kenapa harus dipikirin saat ini kalo yang gue tau hal itu susah dijadiin nyata. mending gue kerja yang bener, ngurus anak semaksimal mungkin, buktiin ke at least diri gue sendiri kalo gue bisa nyeimbangin dua ranah ini at least sekuatnya gue.

 

kalo ditanya kerja buat apa, gue ga tau buat apa. yang selalu gue tau adalah:

  1. gue tau cita-cita dan harapan gue apa
  2. gue tau gue tidak ambisius dalam meraih mimpi gue
  3. gue percaya selama gue masih merasa bisa bertahan di suatu kondisi, berarti ada yang masih harus gue pelajari di situ

Intinya kalo dirangkum, gue sekarang kerja untuk ngumpulin modal. entah itu modal materi atau non-materi.

 

 

lah ini ga ada cool2nya jadinya ya

From Cune: Superpower apa yang lu pengen punya, dan “superpower” apa yang udah lu punya?

superpower yang pengen gue punya adalah ngebaca pikiran orang. itu adalah jenis superpower yang gue gamau banget dimiliki orang lain selain gue. gue gamau pikiran gue dibaca, cause it’s very very shameful, inappropriate and bad. jadi kalo superpower itu eksis di dunia ini, i prefer me to have that power. it’s safer, i won’t judge anyway (pede bener tapi emang pede sih….)

 

“superpower” yang udah gue punya adalah temen2 gue. without them i’m completely nothing.